Review Jujur: Warung Mie yang Kuahnya Bikin Saya Nelpon Ibu
Saya datang untuk mengulas semangkuk mie, pulang dengan tagihan telepon interlokal dan mata yang agak merah. Ternyata yang dijual warung itu bukan cuma kuah.
Pekerjaan saya membuat saya makan di banyak tempat, dan efek sampingnya buruk: saya jadi susah terkesan. Setiap mangkuk masuk ke kepala saya sebagai daftar. Kaldunya bening atau keruh. Mienya kenyal atau lembek. Bawang gorengnya digoreng sendiri atau beli kiloan. Saya sudah lama tidak makan, saya menilai.
Warung ini saya datangi karena tiga orang yang selera makannya tidak pernah saya percaya justru kompak merekomendasikannya. Itu biasanya pertanda buruk. Tempatnya di gang, tanpa papan nama, buka jam empat sore sampai kehabisan. Menunya satu: mie kuah. Mau pesan apa pun, yang datang itu.
Tiga puluh menit antre di gang
Antrenya bukan antre modern yang pakai nomor. Antrenya antre sungguhan: berdiri, geser, dengar obrolan orang di depan, dan berkali-kali mundur karena ada motor lewat. Yang masak satu orang, ibu-ibu, umur mungkin enam puluhan, dengan gerakan yang tidak pernah cepat tapi juga tidak pernah berhenti.
Saya sempat mencatat di ponsel: “Efisiensi rendah, tapi ritmenya konsisten.” Membaca ulang kalimat itu sekarang, saya ingin menepuk kepala saya sendiri.
Sendok pertama, dan semua catatan saya jadi tidak penting
Kuahnya datang panas sekali, warnanya cokelat muda, dan di permukaannya ada minyak bawang yang tidak rapi. Saya sruput sedikit, seperti biasa, untuk menilai.
Lalu saya berhenti. Bukan karena enak — ada banyak yang lebih enak — tapi karena rasanya persis. Persis kuah yang dibuat ibu saya tiap kali salah satu anaknya demam. Ada manis yang datang belakangan, ada bawang putih yang jumlahnya terlalu banyak menurut standar mana pun, dan ada lada yang ditumbuk kasar sampai kadang kegigit.
Saya bukan orang yang gampang melankolis soal makanan. Tapi malam itu saya duduk agak lama, menunduk ke mangkuk, pura-pura kepedasan.
Ada makanan yang enak, dan ada makanan yang tahu alamat rumah kamu. Dua hal itu tidak sama.
Saya tanya bumbunya, jawabannya bikin repot
Sebelum pulang saya sempat bertanya, dengan nada yang saya usahakan seperti wartawan, apa rahasianya. Ibunya menjawab sambil terus mengaduk: “Nggak ada. Saya masaknya kayak masak buat anak saya. Dia di Kalimantan.”
Sudah, itu saja. Beliau tidak berniat membuat saya begini. Saya yang datang membawa kepala penuh catatan dan pulang membawa satu kalimat yang tidak bisa saya taruh di tabel penilaian mana pun.
Sampai di kos, jam sebelas lebih, saya menelepon ibu saya. Bukan video call, telepon biasa, karena saya tidak mau kelihatan mukanya. Kami ngobrol dua puluh tiga menit tentang hal-hal yang tidak penting: harga telur, tetangga yang pindah, atap dapur yang bocor sedikit.
Di akhir, beliau bertanya kenapa tumben menelepon malam-malam. Saya jawab: baru makan mie enak. Beliau bilang: “Ya sudah, jangan lupa minum air putih.”
Penilaian jujur saya
- Kuah: 9/10. Terlalu banyak bawang putih, dan itu justru intinya.
- Mie: 7/10. Standar, tidak istimewa, tidak mengganggu.
- Tempat: 5/10. Sempit, panas, kursi goyang.
- Efek samping: satu telepon ke rumah setelah dua bulan cuma chat.
Saya sudah balik ke sana empat kali. Tiga kali kehabisan. Sekali dapat, dan saya masih duduk di kursi yang sama, menunduk, pura-pura kepedasan.