Kuliner

Kopi Tubruk vs Latte: Debat Panjang di Warung Mas Yanto

Perdebatan ini dimulai jam sembilan pagi dan belum selesai sampai warung tutup. Dua kubu, satu meja, dan satu kesimpulan yang tidak memuaskan siapa pun kecuali Mas Yanto.

Segelas latte dengan motif seni di permukaannya
Barang bukti dari pihak yang kalah jumlah tapi menang penyajian.

Warung Mas Yanto sudah lima belas tahun berdiri di pinggir jalan yang sekarang penuh kedai kopi berkaca besar. Beliau tidak pernah merasa tersaingi. Katanya: “Yang beli di sana kan bukan beli kopi, beli tempat duduk.”

Perdebatan hari itu dipicu Rian, keponakannya, yang pulang dari kota dan membawa satu gelas latte yang dibelinya di kedai dua ratus meter dari situ. Dia meletakkannya di meja warung. Di depan empat bapak-bapak yang sedang minum kopi tubruk.

Itu, dalam sejarah warung ini, setara dengan mendeklarasikan perang.

Kubu pertama: kopi itu harus pahit dan ada ampasnya

Argumen Pak Har: kopi yang benar itu kopi yang “kelihatan asal-usulnya”. Ada ampas di dasar gelas, ada uap yang naik, dan ada momen menunggu sekitar tiga menit sebelum bisa diminum.

“Kalau kopi datang sudah bisa langsung diminum, itu bukan kopi. Itu minuman,” katanya, dengan nada seorang hakim.

Pak Dirman menambahkan poin ekonomi: satu gelas latte setara empat gelas tubruk. “Empat hari ngopi, Mas. Ini kamu habiskan dalam sepuluh menit.”

Kubu kedua: Rian, sendirian, dan tidak menyerah

Rian membalas dengan cukup elegan untuk anak umur dua puluh dua. Katanya, kopi tubruk itu enak kalau kopinya bagus dan airnya benar. Masalahnya, di kebanyakan warung, kopi yang dipakai sudah disangrai terlalu gelap dan digiling terlalu lama sebelum dijual.

“Jadi yang Bapak minum itu bukan rasa kopi. Itu rasa gosong plus gula,” katanya.

Ada jeda sekitar tiga detik. Lalu Pak Har menaruh gelasnya agak keras.

Perempatan kota yang ramai dengan papan iklan menyala
Di kota, kedai kopi tumbuh lebih cepat daripada warung. Itu bagian dari perdebatannya.
Dua-duanya benar, dan itu sebabnya perdebatannya tidak bisa selesai sebelum warung tutup.

Percobaan yang dilakukan siang itu

Karena tidak ada yang mau mengalah, Mas Yanto turun tangan dengan cara yang menurut saya cukup ilmiah untuk ukuran warung tenda.

Beliau menyeduh tiga gelas. Pertama, tubruk dengan kopi warungnya yang biasa. Kedua, tubruk dengan bubuk kopi yang dibawa Rian dari kota, yang harganya per bungkus setara sebelas gelas kopi warung. Ketiga, tubruk kopi warung biasa tapi airnya tidak mendidih penuh, kira-kira didiamkan satu menit setelah angkat.

Empat bapak-bapak mencicipi bertiga-tiga, tanpa diberi tahu mana yang mana.

Hasilnya: tiga dari empat memilih gelas ketiga. Kopi warung biasa, air yang tidak terlalu panas. Bukan kopi mahal Rian, bukan juga seduhan standar warung.

Yang bisa langsung kamu coba di rumah

  • Jangan siram bubuk kopi dengan air yang baru mendidih. Tunggu satu menit dulu.
  • Aduk sekali di awal, lalu diamkan tiga menit. Semakin sering diaduk, semakin pahit.
  • Beli bubuk kopi dalam jumlah kecil dan sering, jangan sekaligus sebulan.
  • Gula masuk belakangan, setelah kamu cicipi tanpa gula sekali.

Siapa yang menang

Secara teknis, Rian benar soal air dan kesegaran bubuk. Secara suara terbanyak, Pak Har menang karena kopi warung tetap dipilih. Secara keuangan, jelas Mas Yanto yang menang: hari itu beliau menjual dua puluh tiga gelas kopi kepada orang-orang yang datang cuma untuk ikut mendengarkan perdebatan.

Sekarang di warung itu ada aturan baru yang ditulis tangan di kardus: Air jangan langsung mendidih. Sabar 1 menit.

Rian masih sesekali datang membawa gelas dari kedai sebelah. Sudah tidak ada yang protes. Tapi selalu ada yang bertanya harganya, setiap kali, dengan nada yang sama.

Pak Slamet

Pensiunan guru yang sekarang mengisi waktu dengan memancing, menyeduh kopi, dan mempertanyakan hal-hal yang dianggap orang lain sudah jelas.

Lihat semua tulisannya

Masih mau lanjut?

Cerita lain yang biasanya dibaca setelah ini

Semua cerita