Kuliner

Blusukan Pasar Subuh: 7 Jajanan yang Hampir Punah

Jam tiga pagi, lampu neon, dan tujuh jajanan yang penjualnya rata-rata di atas enam puluh tahun. Sebagian dari mereka bilang tidak ada yang mau melanjutkan.

Pedagang sayur dan buah di pasar tradisional
Lapak sayur jam empat pagi, saat pembeli pertama datang dan harga masih belum turun.

Saya sampai di pasar jam 03.10 dan sudah merasa terlambat. Lapak sayur sudah penuh, pedagang ikan sudah selesai menata, dan di sudut timur, tempat penjual jajanan berkumpul, sudah ada antrean pendek yang isinya bukan turis kuliner, tapi ibu-ibu yang belanja untuk dijual lagi.

Rencana saya sederhana: mencatat jajanan yang sudah jarang ditemui. Saya pikir akan dapat tiga atau empat. Ternyata tujuh, dan satu di antaranya saya baru dengar namanya hari itu.

Tujuh yang saya temukan

Satu, kue rangi. Dipanggang di cetakan besi tua, disiram gula merah kental. Penjualnya, Bu Idah, 68 tahun, sudah 41 tahun di lapak yang sama. Cetakannya warisan ibunya.

Dua, gethuk lindri yang digiling di tempat. Bukan yang dicetak pabrik. Warnanya tidak rata, dan itu tandanya benar.

Tiga, kue cucur yang pinggirannya renyah. Rahasianya, katanya, adonan didiamkan semalaman dan minyaknya harus dalam, bukan sedikit.

Empat, kue putu bambu. Ini masih agak mudah ditemukan, tapi yang pakai bambu asli sudah jarang. Suara uapnya itu yang bikin orang menoleh.

Lima, ongol-ongol sagu. Kenyal, manis pelan, ditaburi kelapa parut. Satu-satunya yang hari itu tidak habis sampai jam tujuh.

Enam, wajik ketan dibungkus daun jagung. Dibungkusnya butuh waktu lebih lama daripada memasaknya.

Tujuh, kue satu. Ini yang baru saya dengar namanya. Terbuat dari kacang hijau sangrai yang dihaluskan, dicetak, lalu dikeringkan. Rasanya kering di mulut lalu langsung hancur.

Pedagang berjualan dari atas perahu di pasar terapung
Bentuk pasarnya bisa beda-beda, tapi jamnya sama: yang terbaik selalu habis sebelum matahari naik.
Yang membuat jajanan ini hampir punah bukan rasanya. Rasanya masih dicari. Yang tidak diwariskan itu jam kerjanya.

Percakapan yang paling sering terulang

Saya bertanya hal yang sama ke tujuh penjual: nanti siapa yang melanjutkan?

Lima dari tujuh menjawab tidak ada. Bukan karena anaknya tidak bisa — beberapa justru sudah diajari — tapi karena tidak ada yang mau bangun jam satu pagi untuk penghasilan yang tidak pasti.

Bu Idah menjelaskan hitungannya dengan sangat tenang. Modal harian sekitar dua ratus ribu. Kalau habis semua, untungnya sekitar seratus dua puluh ribu. Kalau hujan, bisa tidak balik modal. Dan hujan di musim tertentu bisa lima hari berturut-turut.

“Anak saya kerja di pabrik. Gajinya pasti tiap tanggal 1,” katanya. “Saya juga nggak mau maksa.”

Dua yang punya penerus, dan apa bedanya

Dua penjual yang menjawab “ada” punya satu kesamaan: mereka sudah mengubah cara jual.

Yang pertama, penjual kue rangi di sisi utara, sekarang menerima pesanan untuk acara kantor lewat anaknya. Produksinya tetap di dapur yang sama, tapi separuh sudah punya pembeli sebelum dibuat.

Yang kedua, penjual wajik, punya menantu yang memotret dagangannya dengan layak dan menjualnya dalam kemasan kotak untuk oleh-oleh. Harganya tiga kali lipat harga pasar, dan laku.

Saya sempat berpikir ini agak menyedihkan — tradisi yang harus dikemas ulang supaya hidup. Tapi Bu Idah punya pandangan berbeda waktu saya ceritakan: “Ya bagus dong. Yang penting kuenya masih ada. Cetakan saya ini juga dulu bukan punya nenek saya.”

Kalau mau blusukan pasar subuh

  • Datang jam tiga sampai empat. Jam enam sudah beda pasar rasanya.
  • Bawa uang kecil. Ini bukan soal gaya, ini soal tidak merepotkan.
  • Beli dulu, tanya belakangan. Urutannya penting.
  • Jangan minta cerita di jam sibuk. Tunggu antreannya reda.

Saya pulang jam setengah delapan membawa tujuh bungkus, dan sepanjang jalan kepikiran satu hal yang tidak saya tanyakan: kalau cetakan besi Bu Idah itu suatu hari berhenti dipakai, dia akan disimpan di mana.

Sari Melati

Pemburu warung yang mejanya goyang dan sendoknya tidak seragam. Menolak menilai makanan dari foto, harus datang, duduk, dan ngobrol dengan yang masak.

Lihat semua tulisannya

Masih mau lanjut?

Cerita lain yang biasanya dibaca setelah ini

Semua cerita