Traveling

Nginep di Rumah Warga Karena Tenda Saya Terbang

Tenda saya terbang jam sebelas malam, hujan tidak berhenti, dan pilihan yang tersisa cuma dua: turun dalam gelap atau mengetuk pintu orang. Saya memilih yang kedua, dengan sangat tidak enak hati.

Punggung gunung tersinari cahaya keemasan
Pagi setelah malam terburuk. Pemandangan ini yang bikin semua orang lupa apa yang terjadi semalam.

Kami bertiga, semuanya sudah beberapa kali naik, dan itu justru masalahnya. Kami memasang tenda di tempat yang pemandangannya paling bagus, bukan yang paling terlindung. Kami tahu itu keputusan buruk waktu memasang. Kami tetap melakukannya.

Sore harinya cerah. Jam sembilan malam mulai gerimis. Jam sepuluh angin berubah arah, dan jam sebelas kurang sedikit, satu pasak lepas, lalu dua, lalu tenda kami berubah bentuk jadi sesuatu yang tidak lagi berfungsi sebagai tenda.

Dua puluh menit yang panjang

Kami sempat mencoba memperbaiki. Dalam hujan, gelap, dan angin, tiga orang memegangi kain sambil berteriak instruksi yang tidak terdengar satu sama lain. Satu frame patah. Setelah itu tidak ada lagi yang bisa diperbaiki.

Barang-barang basah semua. Ponsel dua dari tiga sudah mati. Suhu turun dan tangan mulai susah digerakkan.

Kami menghitung pilihan. Turun malam itu berarti tiga jam di jalur licin dengan satu senter. Bertahan di tempat berarti duduk semalaman di bawah hujan. Pilihan ketiga: rumah warga terakhir yang kami lewati, sekitar empat puluh menit turun, di batas ladang.

Mengetuk pintu jam setengah dua belas malam

Ini bagian yang paling tidak enak. Mengetuk pintu orang asing tengah malam, bertiga, basah kuyup, di daerah yang bukan tempat kami.

Yang membuka pintu seorang bapak, mungkin lima puluhan, memakai sarung. Beliau melihat kami sekitar dua detik, lalu langsung berteriak ke dalam: “Bu, air panas!”

Tidak ada pertanyaan siapa kami. Tidak ada basa-basi. Urutannya: masuk dulu, ganti baju dulu, ngobrol belakangan.

Seseorang duduk memandang lembah dan barisan gunung
Titik tempat tenda kami berdiri, difoto keesokan paginya. Anginnya masuk dari sisi kiri.
Saya menyiapkan tiga kalimat permintaan maaf sepanjang jalan turun. Tidak satu pun sempat saya ucapkan.

Malam itu di ruang tengah

Kami dipinjami baju kering — kaus lengan panjang dan sarung, kombinasi yang membuat kami bertiga terlihat seperti sedang menghadiri pengajian dadakan. Ada teh manis panas yang datang tanpa diminta, dan singkong rebus sisa sore.

Kami tidur di ruang tengah beralas tikar. Sebelum tidur, bapak itu bertanya kami memasang tenda di sebelah mana. Waktu kami sebutkan titiknya, beliau mengangguk pelan dan berkata: “Iya, di situ memang bagus. Tapi kalau angin dari barat, semua yang di situ kena.”

Beliau tidak bilang “makanya”. Tidak ada nada menyalahkan sama sekali. Justru itu yang bikin saya merasa lebih bodoh.

Paginya, dan urusan uang

Pagi harinya cerah total, seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi. Kami dibangunkan bau kopi dan suara ayam.

Waktu pamit, kami menyodorkan uang. Ditolak. Kami coba lagi, ditolak lagi, kali ini dengan kalimat yang saya ingat persis: “Nanti kalau saya ke kota, saya juga nggak mau bayar kalau numpang.”

Akhirnya kami menaruh uangnya di bawah gelas di meja, seperti pengecut, dan pamit cepat-cepat.

Tiga bulan kemudian kami balik, membawa selimut, dua panci, dan beras. Kali ini tidak bisa ditolak karena kami taruh di teras dan langsung masuk untuk ngobrol.

Yang kami ubah setelah malam itu

  • Pilih lokasi tenda berdasarkan arah angin dan penghalang alami, bukan pemandangan.
  • Bawa pasak cadangan dan satu frame cadangan. Beratnya tidak seberapa.
  • Catat titik rumah warga terakhir yang dilewati, lengkap dengan perkiraan waktu tempuh turun.
  • Bawa uang tunai kecil dan barang yang bisa ditinggalkan sebagai terima kasih.
  • Simpan satu ponsel di kantong kedap air, dimatikan, khusus untuk keadaan darurat.

Sekarang setiap kami lewat jalur itu, kami mampir. Bukan untuk numpang. Untuk minum teh dan mendengar beliau menyebutkan lagi, dengan sabar, dari arah mana angin biasanya datang.

Tika Rahmawati

Menyukai hal-hal yang tidak selesai dijelaskan. Menulis soal kabut, jalan sepi, dan pertanyaan yang lebih enak dibiarkan tanpa jawaban.

Lihat semua tulisannya

Masih mau lanjut?

Cerita lain yang biasanya dibaca setelah ini

Semua cerita