Naik Kereta Ekonomi 14 Jam, Dapat Sahabat dan Resep Rendang
Saya pilih kereta ekonomi karena tiketnya murah, bukan karena romantis. Empat belas jam kemudian saya turun dengan punggung pegal, satu nomor telepon baru, dan resep rendang yang ditulis di belakang struk.
Alasan saya naik kereta ekonomi jarak jauh sangat tidak puitis: selisih harganya bisa untuk makan empat hari. Tidak ada niat mencari pengalaman. Saya bahkan sudah menyiapkan diri untuk empat belas jam yang membosankan, dengan dua power bank dan satu daftar putar yang panjangnya berlebihan.
Kursi saya nomor 12C. Menghadap ke belakang, yang artinya saya akan melihat pemandangan menjauh selama seharian penuh. Di depan saya, saling berhadapan, satu keluarga: bapak, ibu, dan anak perempuan sekitar tujuh tahun yang sejak awal sudah menatap saya dengan tatapan penuh penilaian.
Jam 1 sampai 3: semua orang masih pura-pura sendiri
Tiga jam pertama gerbong itu sunyi dalam arti sosial. Semua orang menunduk ke ponsel. Ada bapak yang menonton video ceramah tanpa earphone dengan volume yang jelas melanggar hak asasi penumpang lain, dan tidak ada yang berani menegur.
Saya sudah menyiapkan wajah “jangan ajak bicara” yang biasanya efektif. Ternyata wajah itu tidak berlaku pada anak umur tujuh tahun.
Dia mulai dengan pertanyaan pembuka yang mematikan: “Kakak kenapa naik kereta sendirian?”
Jam 4 sampai 8: gerbong berubah jadi ruang tamu
Begitu satu percakapan pecah, semuanya ikut. Ibunya menawari saya rempeyek. Saya menolak sekali — sebagaimana adat — lalu menerima di tawaran kedua. Bapak di seberang lorong ikut nimbrung soal harga tiket dulu dan sekarang. Mbak yang duduk di belakang saya menyodorkan tisu basah ke arah anak kecil yang tangannya belepotan.
Jam keenam, saya sudah tahu bahwa keluarga ini pulang kampung karena neneknya baru keluar rumah sakit, bahwa si bapak dulu kerja di proyek di Batam, dan bahwa anaknya bercita-cita jadi dokter hewan khusus kucing — bukan hewan lain, kucing saja.
Pesawat memindahkan badan saya. Kereta ekonomi memindahkan hari saya, dan itu ternyata dua hal yang berbeda.
Jam 9 sampai 11: bagian yang berat
Saya tidak mau mengarang bahwa semuanya menyenangkan. Jam kesembilan punggung saya sakit di tempat yang saya tidak tahu bisa sakit. AC gerbong terlalu dingin di kaki dan terlalu hangat di kepala. Toilet di ujung gerbong sudah melewati batas layak sejak jam keenam.
Ada bayi yang menangis empat puluh menit tanpa jeda, dan ibunya berdiri di lorong sambil menggendong dengan wajah yang membuat semua orang di gerbong itu merasa harus melakukan sesuatu tapi tidak tahu apa. Akhirnya seorang ibu lain berdiri, mengambil alih gendongan tanpa banyak bicara, dan mengajak jalan ke ujung gerbong. Sepuluh menit kemudian bayinya tidur.
Jam 12 sampai 14: resep di belakang struk
Menjelang subuh, obrolan pindah ke makanan, seperti semua obrolan panjang di Indonesia pada akhirnya. Saya menyebut bahwa rendang buatan saya selalu gagal: dagingnya keras, kuahnya pecah, warnanya pucat.
Ibu di depan saya minta pulpen. Tidak ada kertas, jadi beliau memakai struk pembelian air mineral yang ada di meja lipat. Tulisannya kecil-kecil, bolak-balik, lengkap dengan urutan dan catatan waktu.
Poin pentingnya, katanya, ada tiga: santannya jangan pernah ditinggal, apinya kecil terus dari awal sampai akhir, dan “kalau sudah kelihatan minyaknya keluar, itu baru mulai, bukan selesai”.
Saya turun jam enam pagi. Kami tukar nomor, seperti yang selalu dijanjikan orang setelah perjalanan panjang dan biasanya tidak pernah ditepati. Bedanya, dua bulan kemudian saya benar-benar mengirim foto rendang buatan saya yang akhirnya berhasil.
Balasannya datang lima menit kemudian: “Kurang lama sedikit. Tapi sudah jauh lebih baik.”
Struk itu masih saya simpan. Tintanya sudah mulai pudar, jadi minggu lalu saya salin ke buku catatan, dan struknya tetap saya simpan juga.