Kabut di Hutan Pinus dan Suara yang Nggak Ada Sumbernya
Kami berlima, satu tenda, dan satu suara yang datang tiga malam berturut-turut dari arah yang sama. Penjelasan paling masuk akal baru kami dapat setahun kemudian, dan itu justru bikin saya lebih merinding.
Saya perlu bilang di awal: saya bukan orang yang percaya hal-hal seperti ini. Saya penakut, tapi tidak percaya. Dua hal yang bisa berjalan bersamaan, dan tiga malam di hutan pinus itu membuktikannya dengan cara yang tidak saya minta.
Kami berlima, semuanya sudah biasa berkemah. Lokasinya bukan tempat angker. Tidak ada cerita apa-apa, tidak ada larangan dari warga, bahkan ada dua rombongan lain di sisi lain lapangan. Sinyal ada satu bar, cukup untuk mengirim pesan kalau berdiri di titik tertentu.
Malam pertama: pukul 01.12
Saya bangun karena kebelet, bukan karena takut. Waktu saya keluar tenda, kabut sudah turun sampai setinggi pinggang. Lampu tenda sebelah masih menyala.
Lalu terdengar suara itu. Bukan jeritan, bukan tangisan, bukan apa pun yang biasanya dipakai di film. Suaranya seperti orang memindahkan kursi kayu di lantai keramik. Satu kali, dari arah timur.
Saya berdiri diam sekitar setengah menit. Tidak ada lanjutannya. Saya kembali tidur dan tidak menceritakan apa-apa besok paginya.
Malam kedua: pukul 01.09
Kali ini bukan saya yang bangun duluan. Rio, yang tidur paling dekat pintu tenda, mengguncang bahu saya. Dia bilang ada suara aneh. Saya tanya suaranya seperti apa, dan dia menjawab dengan kalimat yang bikin punggung saya dingin: “Kayak kursi digeser.”
Kami berdua keluar. Kabutnya lebih tebal daripada malam sebelumnya. Suara itu datang lagi — arah yang sama, timur, dari lembah di bawah barisan pinus. Dua kali, dengan jeda sekitar delapan detik.
Yang membuat kami takut bukan suaranya. Yang membuat kami takut adalah suara itu selalu datang pada jam yang hampir sama.
Malam ketiga: kami menunggu
Malam terakhir kami sengaja begadang. Lima orang, duduk melingkar, senter mati semua, jam tangan disiapkan. Ada rasa konyol yang jujur saja cukup menghibur: lima orang dewasa duduk di kegelapan menunggu bunyi kursi.
Pukul 01.07, Rio mengangkat tangan. Pukul 01.11, suara itu datang. Kali ini empat kali beruntun, lebih pelan, lalu berhenti total.
Kami sudah sepakat: kalau datang lagi, kami turun ke arah lembah. Kenyataannya, tidak ada satu pun dari kami yang berdiri. Kami saling menunggu selama mungkin dua menit, lalu Adit bilang “besok pagi aja”, dan kami semua langsung setuju dengan kecepatan yang memalukan.
Paginya, dan setahun kemudian
Pagi harinya kami turun ke lembah itu. Tidak ada apa-apa. Tanahnya lembap, ada beberapa batang pinus tumbang, dan satu tumpukan seng bekas yang sepertinya sisa gubuk lama.
Setahun kemudian saya bertemu seorang peneliti kehutanan di acara kantor. Saya ceritakan ini sebagai obrolan basa-basi. Dia langsung bertanya dua hal: apakah suaranya datang setelah hujan sore, dan apakah malam itu dingin sekali.
Dua-duanya iya.
Penjelasannya, katanya, kemungkinan besar batang pinus. Kayu yang basah dan kemudian mendingin drastis bisa mengeluarkan bunyi retak dan gesekan, dan kabut tebal memantulkan suara sehingga terdengar lebih dekat dan lebih “padat” daripada aslinya. Jam yang hampir sama itu juga masuk akal: suhu paling rendah biasanya jatuh di jam yang berdekatan tiap malam.
Saya lega. Beneran lega, selama kira-kira satu hari.
Lalu saya ingat satu hal yang tidak sempat saya ceritakan ke dia. Di malam ketiga, sebelum suara keempat, salah satu dari kami sempat berbisik bertanya “siapa yang nyenter?” — karena ada satu cahaya kecil bergerak di sisi lembah. Kami semua menjawab bukan. Kelima senter ada di tengah lingkaran, mati semua.
Bagian itu belum ada penjelasannya, dan saya sudah berhenti mencari.