Jalan Pulang yang Selalu Terasa Lebih Pendek, Ini Alasannya
Rute yang sama, jarak yang sama, kadang macetnya juga sama. Tapi perjalanan pulang hampir selalu terasa lebih cepat. Ternyata ada namanya, dan ada percobaan yang membuktikannya.
Saya mulai memperhatikan ini waktu pindah kerja ke tempat yang jaraknya 23 kilometer dari rumah. Berangkat terasa panjang sekali. Pulang, dengan rute persis sama, terasa seperti setengahnya.
Awalnya saya kira ini soal lalu lintas. Jadi selama dua bulan saya catat: jam berangkat, jam sampai, dan perkiraan macet. Hasilnya bikin saya penasaran. Rata-rata waktu tempuh berangkat 47 menit, pulang 51 menit. Pulang lebih lama, tapi tetap terasa lebih pendek.
Namanya ada: return trip effect
Ternyata ini sudah lama diteliti. Istilahnya return trip effect, dan penelitian yang paling sering dikutip dilakukan oleh sekelompok peneliti Belanda sekitar satu dekade lalu. Mereka meminta peserta menempuh rute pergi-pulang dengan sepeda dan bus, lalu menanyakan perkiraan durasi.
Hasilnya konsisten: perjalanan pulang diperkirakan lebih singkat, bahkan ketika durasinya sama persis. Selisih perasaannya bisa mencapai belasan persen.
Tiga penjelasan yang paling masuk akal
Pertama, soal ekspektasi. Waktu berangkat, kita biasanya punya target: harus sampai jam sekian. Otak jadi sibuk membandingkan posisi sekarang dengan target itu, dan perbandingan terus-menerus itu membuat waktu terasa merambat. Waktu pulang, targetnya longgar.
Kedua, soal keakraban rute. Di perjalanan pergi, otak menandai banyak hal baru — belokan, papan nama, lampu merah. Semakin banyak penanda yang direkam, semakin panjang rasanya. Waktu pulang, semua itu sudah dikenali, jadi lebih sedikit yang direkam.
Ketiga, soal perhatian. Perjalanan pulang biasanya lebih banyak dihabiskan untuk melamun, mendengarkan sesuatu, atau memikirkan hal lain. Waktu perhatian kita tidak tertuju pada waktu itu sendiri, waktu terasa lewat lebih cepat.
Yang berubah bukan jaraknya. Yang berubah adalah seberapa sering kita mengecek sudah sampai mana.
Percobaan kecil yang saya lakukan sendiri
Karena penasaran, saya coba tiga hal selama tiga minggu.
Minggu pertama, saya berangkat tanpa melihat jam sama sekali sampai tiba. Hasilnya: perjalanan berangkat terasa jauh lebih pendek daripada biasanya. Ini yang paling terasa efeknya.
Minggu kedua, saya pulang lewat rute yang sedikit berbeda tiap hari. Hasilnya kebalikannya: pulang jadi terasa lama, padahal jaraknya mirip. Rute baru berarti banyak penanda baru.
Minggu ketiga, saya pulang sambil mendengarkan podcast panjang yang benar-benar saya ikuti isinya. Ini yang paling ekstrem: dua kali saya kaget karena tiba-tiba sudah sampai gang rumah.
Kalau perjalanan berangkat kamu terasa menyiksa
- Berhenti mengecek jam dan aplikasi peta setiap beberapa menit. Ini penyumbang terbesar.
- Tetapkan target berangkat dengan jeda longgar, supaya otak tidak menghitung mundur.
- Kalau bisa, isi perjalanan dengan sesuatu yang butuh perhatian penuh, bukan yang sambil lalu.
- Jangan sering ganti rute berangkat. Rutinitas justru membuat waktu terasa lebih pendek.
Bagian yang tidak bisa dijelaskan sains
Ada satu hal yang tidak masuk dalam penjelasan mana pun, dan ini yang membuat saya menulis cerita ini.
Selama dua tahun ibu saya dirawat di rumah sakit, saya bolak-balik ke sana hampir tiap hari. Rute yang sama, jarak yang sama. Tapi selama dua tahun itu, satu-satunya perjalanan yang terasa panjang justru perjalanan pulang.
Saya sudah baca beberapa penjelasan soal bagaimana emosi memengaruhi persepsi waktu, dan semuanya masuk akal di atas kertas. Tetap saja, tidak ada satu pun yang benar-benar menjelaskan kenapa dua puluh tiga kilometer bisa terasa seperti jarak yang berbeda tergantung siapa yang menunggu di ujungnya.