Jadi Penonton Bayaran, Pulang Bawa Cerita Seumur Hidup
Bayarannya seratus lima puluh ribu, plus nasi kotak. Tugasnya: tepuk tangan, tertawa di aba-aba, dan terlihat antusias selama empat jam. Yang saya dapat ternyata bukan cuma itu.
Saya tahu pekerjaan ini dari grup lowongan harian. Isinya singkat: dibutuhkan penonton acara televisi, hadir jam 14.00, selesai sekitar 19.00, fee 150 ribu, makan disediakan, pakaian bebas rapi warna cerah.
Saya waktu itu sedang di antara dua pekerjaan dan sedang butuh apa saja. Jadi saya daftar, dan dua hari kemudian saya sudah berdiri di antrean bersama sekitar seratus dua puluh orang lain di samping gedung studio.
Yang saya kira kerjaan gampang
Ada koordinator yang memberi pengarahan sepuluh menit sebelum masuk. Aturannya jelas: ponsel dimatikan, jangan melihat kamera, jangan berdiri kecuali disuruh, dan yang paling penting, perhatikan orang yang berdiri di samping kamera dua.
Orang itu namanya — setidaknya begitu semua memanggilnya — Mas Cue. Tugasnya memberi aba-aba dengan tangan: tepuk tangan, lebih keras, tertawa, berhenti. Selama empat jam, seratus dua puluh orang di studio itu bergerak mengikuti tangannya.
Saya kira ini akan terasa merendahkan. Ternyata yang saya rasakan lebih aneh dari itu: setelah sekitar empat puluh menit, saya berhenti berpikir dan mulai benar-benar tertawa.
Tawa yang dibayar dan tawa yang asli ternyata bisa jadi satu hal yang sama, asal kamu berdiri di ruangan itu cukup lama.
Lelah yang tidak saya perhitungkan
Jangan bayangkan duduk santai. Kursinya keras, studio dingin di awal lalu panas setelah lampu menyala penuh, dan kamu tidak boleh keluar sembarangan karena kamera bisa menyorot ke arah mana saja.
Tepuk tangan selama empat jam, dengan intensitas yang diminta, membuat telapak tangan panas dan bahu pegal. Ada bapak di sebelah saya yang jelas sudah profesional: dia bertepuk dengan telapak setengah cekung, gerakannya kecil, tapi bunyinya keras. Waktu jeda dia mengajari saya caranya.
“Kalau lurus begitu, sejam juga sudah merah,” katanya. Dia sudah tiga tahun jadi penonton bayaran, rata-rata delapan kali sebulan.
Orang-orang di kursi itu
Ini bagian yang membuat saya menulis cerita ini.
Di sebelah kiri saya, mahasiswa semester akhir yang ikut karena jadwal kuliahnya kosong hari itu. Di depan saya, dua ibu yang datang berdua dan sudah saling kenal dari acara-acara sebelumnya. Di belakang, seorang bapak yang bekerja sebagai satpam malam dan mengambil pekerjaan ini di jam tidurnya.
Waktu jeda iklan, studio itu berubah jadi ruang tunggu yang hangat. Orang bertukar informasi soal acara mana yang bayarannya lancar, mana yang suka telat, mana yang nasi kotaknya layak. Ada semacam serikat tidak resmi yang bekerja lewat grup pesan.
Momen yang tidak ada di siaran
Menjelang segmen terakhir, salah satu pengisi acara — seorang penyanyi yang sudah tidak sering muncul di televisi — menyanyikan lagu lamanya. Mas Cue mengangkat tangan, tanda tepuk tangan.
Tapi setengah studio tidak menunggu aba-aba. Ibu-ibu di depan saya ikut menyanyi dari bait pertama, hafal semua liriknya. Bapak satpam di belakang saya juga.
Penyanyi itu berhenti sebentar di tengah lagu, melihat ke arah kursi penonton, lalu melanjutkan dengan suara yang jelas berubah. Setelah selesai, dia mengangguk ke arah kami lebih lama daripada yang diperlukan.
Bagian itu tidak masuk siaran. Saya cek waktu acaranya tayang dua minggu kemudian: yang muncul cuma potongan tepuk tangan standar dari kamera dua.
Saya cuma dua kali ikut jadi penonton bayaran. Uangnya sudah lama habis. Yang masih saya ingat: seratus dua puluh orang menyanyikan lagu yang tidak diminta, di ruangan dingin, untuk seseorang yang mungkin sudah lama tidak mendengarnya dinyanyikan sebanyak itu.