Mancing di Laut Pertama Kali: Ikan Nol, Mabuk Laut Sempurna
Saya sudah tiga puluh tahun mancing di air tawar dan menganggap laut cuma versi yang lebih besar. Enam jam di atas perahu memperbaiki anggapan itu dengan cara yang sangat tidak sopan.
Saya pensiun sebagai guru dua tahun lalu, dan sejak itu punya waktu untuk mengerjakan hal-hal yang selama tiga puluh tahun cuma jadi rencana. Salah satunya: mancing di laut.
Bekal saya percaya diri. Saya sudah mancing di kolam, sungai, waduk, dan satu kali di rawa yang hasilnya cuma gigitan nyamuk. Laut, pikir saya, cuma soal skala.
Jam 04.00: berangkat
Perahunya kayu, mesin tempel, muat enam orang. Yang ikut: saya, dua orang tetangga, dan Pak Ridwan si pemilik perahu bersama satu anak buahnya.
Satu jam pertama menyenangkan sekali. Langit berubah warna, air tenang, dan saya sempat berpikir kenapa baru sekarang saya melakukan ini.
Jam 06.30: laut berubah pikiran
Setelah agak jauh dari daratan, ombaknya berubah. Bukan besar — Pak Ridwan bilang ini “biasa saja” — tapi ritmenya tidak beraturan. Perahu naik, lalu turun dengan jeda yang tidak bisa ditebak.
Saya mulai merasa ada yang salah di ulu hati. Saya lakukan hal yang paling salah: menunduk untuk mengurusi kail.
Dua menit kemudian saya sudah membungkuk di sisi kanan perahu, memberi makan laut, disaksikan dua tetangga yang saya kenal sejak 1998.
Di darat, orang mabuk laut itu bahan tertawaan. Di atas perahu, tidak ada yang tertawa. Semua tahu giliran bisa datang kapan saja.
Apa yang dilakukan Pak Ridwan
Reaksinya cepat dan sama sekali tidak dramatis. Mesin dimatikan sebentar, perahu diarahkan supaya haluannya menghadap ombak, dan saya disuruh pindah ke tengah perahu, duduk rendah, pandangan lurus ke garis daratan.
Lalu saya diberi dua hal: air putih hangat dari termos, dan satu potong jahe yang harus digigit pelan-pelan.
Yang paling membantu justru instruksi terakhirnya: “Jangan lihat air dekat perahu. Lihat yang jauh.”
Butuh sekitar empat puluh menit, tapi saya benar-benar membaik. Tidak sembuh, tapi cukup untuk bisa duduk tegak dan malu dengan layak.
Kalau kamu mancing laut untuk pertama kali
- Makan sebelum berangkat, tapi jangan yang berminyak. Perut kosong justru lebih cepat mual.
- Minum obat anti mabuk satu jam sebelum naik, bukan waktu sudah di atas perahu.
- Duduk di tengah perahu, serendah mungkin. Bagian depan dan belakang paling terasa goyangannya.
- Pandangan ke horizon. Jangan menunduk lama untuk mengikat kail; siapkan semuanya di darat.
- Bawa jahe atau permen jahe. Ini nasihat orang perahu, dan saya tidak lagi meremehkannya.
Hasil tangkapan saya hari itu
Nol.
Dua tetangga saya dapat total sembilan ekor, ukuran sedang. Anak buah Pak Ridwan, yang memancing sambil mengurus mesin dan sesekali mengurus saya, dapat empat.
Waktu kembali ke dermaga jam sebelas, saya sudah pasrah jadi bahan cerita di kampung sampai setahun ke depan. Ternyata benar. Sampai sekarang, kalau ada yang mengajak saya ke laut, selalu ada tambahan kalimat: “Bawa jahe, ya, Pak.”
Kenapa saya balik lagi
Empat bulan kemudian saya ikut lagi. Kali ini dengan persiapan lengkap: obat, jahe, posisi duduk yang benar, dan tidak menunduk sama sekali.
Saya dapat dua ekor. Keduanya kecil dan salah satunya sebetulnya masuk kategori yang lebih pantas dilepas.
Tapi ada satu momen, sekitar jam tujuh pagi, waktu semua orang di perahu itu diam dan yang terdengar cuma mesin pelan dan air. Saya duduk di tengah, memegang joran, melihat garis daratan yang jauh, dan tidak memikirkan apa pun selama mungkin sepuluh menit penuh.
Di umur enam puluh dua, sepuluh menit seperti itu harganya jauh lebih mahal daripada dua ekor ikan.