Subuh-subuh ke Waduk, yang Dapat Malah Bapak di Sebelah
Saya bawa joran carbon, kotak umpan lima laci, dan riset dari tiga video. Beliau bawa bambu, cacing, dan termos. Tebak siapa yang pulang bawa ember penuh.
Persiapan saya untuk hari itu memakan waktu dua minggu. Saya nonton sebelas video, membaca dua utas panjang di forum, dan membeli satu joran yang harganya membuat saya berbohong ke istri soal diskon. Saya juga punya kotak umpan lima laci yang isinya tertata seperti kotak alat dokter gigi.
Saya sampai di waduk jam empat lewat sepuluh. Sudah ada satu orang di sana. Bapak-bapak, sarung diikat di pinggang, jaket hijau tentara yang sudah pudar, duduk di atas ember terbalik. Jorannya bambu. Bukan bambu gaya-gayaan yang dijual mahal itu — bambu betulan, masih ada ruasnya.
Satu jam pertama: saya sibuk, beliau diam
Saya menghabiskan empat puluh menit pertama untuk mengatur posisi. Pindah dua kali. Ganti kail sekali. Mengukur kedalaman dengan pemberat, seperti yang diajarkan video. Mengoles umpan dengan cairan beraroma yang di botolnya tertulis “terbukti”.
Beliau, selama empat puluh menit itu, melakukan satu hal: duduk. Sesekali menyeruput kopi dari termos. Sekali menguap.
Jam lima kurang, jorannya bergerak. Beliau tarik tanpa berdiri. Ikan pertama masuk ember.
Percakapan yang mengubah cara saya mancing
Setelah ikan ketiga — saya masih nol — saya tidak tahan dan pindah agak dekat. Basa-basi soal cuaca, lalu saya tanya langsung: umpannya apa, Pak?
“Cacing.”
Saya tunggu kelanjutannya. Tidak ada. Saya tanya lagi, dari mana cacingnya. “Belakang rumah.” Saya tanya kenapa tidak pakai umpan pabrikan. Beliau menoleh sebentar, lalu menjawab dengan kalimat yang sampai sekarang saya ingat:
“Ikan di sini tiap hari lihat umpan mahal. Yang jarang dia lihat itu cacing yang benar-benar dari tanah.”
Saya tidak yakin itu ilmiah. Tapi ember beliau isinya sudah lima dan ember saya masih kering, jadi posisi tawar saya lemah.
Yang sebenarnya beda
Setelah dua jam memperhatikan, saya sadar bedanya bukan di umpan. Bedanya di gerakan. Saya menggulung senar tiap tiga menit karena tidak sabar. Beliau membiarkan senarnya diam sampai benar-benar ada yang datang. Saya berdiri, membungkuk, mengintip air, membuat bayangan di permukaan. Beliau duduk rendah dan hampir tidak bergerak sama sekali.
Saya memancing seperti orang yang sedang mengejar target. Beliau memancing seperti orang yang sedang menunggu tamu yang pasti datang.
Empat hal yang saya ubah setelah pagi itu
- Berhenti pindah titik sebelum empat puluh menit.
- Duduk lebih rendah, jangan berdiri di tepi air.
- Bawa satu umpan alami, apa pun yang lain yang dibawa.
- Datang untuk duduk. Ikan itu bonus, bukan tujuan.
Jam delapan beliau pulang. Sebelum pergi, dua ekor dari embernya dipindahkan ke ember saya yang kosong. Saya menolak. Beliau bilang: “Bukan buat kamu, buat istrimu. Kasihan sudah nunggu dari subuh.”
Saya pulang dengan dua ikan yang bukan hasil saya dan satu pelajaran yang tidak ada di video mana pun. Minggu depannya saya balik lagi, bawa cacing dari belakang rumah. Dapat satu. Kecil. Tapi punya saya sendiri.