Vespa Butut Warisan Bapak yang Nolak Mati Setelah 31 Tahun
Tiga bengkel bilang mesinnya sudah waktunya pensiun. Vespa ini rupanya tidak bisa baca, jadi dia tetap hidup, tetap bocor sedikit, dan tetap bikin saya telat ke mana-mana.
Bapak saya beli Vespa ini tahun 1994, bekas, dari teman kantornya. Waktu itu saya belum lahir. Yang saya tahu, motor ini sudah mengantar dua anak ke sekolah, satu keluarga ke pasar tiap Minggu, dan satu peti jenazah nenek saya sampai ujung gang karena mobil tidak muat masuk.
Bapak meninggal empat tahun lalu. Vespanya berdiri di garasi selama sebelas bulan, ditutup terpal, tidak ada yang berani menyentuh. Bukan karena angker. Karena tidak ada yang tahu harus mulai dari mana.
Tiga bengkel, tiga vonis yang sama
Bengkel pertama membuka jok, melihat sebentar, lalu bilang: “Mending dijual, Mas. Buat pajangan masih laku.”
Bengkel kedua lebih halus. Beliau menghitung dulu di kertas: seal, ring piston, kabel, karburator diganti, kelistrikan dirapikan. Angkanya lebih mahal daripada harga motor bekas yang jalan. “Kalau dihitung untung rugi, nggak masuk,” katanya.
Bengkel ketiga bahkan tidak sempat melihat mesinnya. Begitu tahu tahunnya, langsung geleng.
Saya pulang tiga kali dengan jawaban yang sama, dan tiga kali juga saya buka terpalnya lagi malam harinya untuk sekadar duduk di sebelahnya seperti orang aneh.
Semua bengkel menghitung dengan benar. Cuma mereka menghitung motor, dan yang saya tanyakan bukan motor.
Pak Tarno dan bengkel yang tidak ada papan namanya
Yang akhirnya mau adalah bengkel keempat, yang saya temukan karena tersesat waktu cari jalan pintas. Tidak ada papan nama, cuma satu tenda terpal biru dan tumpukan onderdil yang tersusun dengan sistem yang cuma dimengerti pemiliknya.
Pak Tarno tidak menghitung apa-apa. Beliau cuma bertanya: “Ini motor siapa dulunya?” Saya jawab. Beliau mengangguk, lalu bilang: “Ya sudah, tinggal saja. Jangan ditanya-tanya tiap hari.”
Dua bulan. Saya menahan diri untuk tidak menelepon, dan gagal empat kali. Setiap kali menelepon, jawabannya sama: “Belum. Sabar.”
Yang beliau lakukan ternyata bukan memperbaiki
Waktu saya jemput, mesinnya hidup di percobaan kedua. Bunyinya khas Vespa tua: seperti orang berdehem panjang sebelum bicara. Saya tanya apa saja yang diganti.
Jawabannya bikin saya diam. Yang diganti sedikit sekali — seal, satu kabel, dua baut yang hilang. Sisanya dibersihkan, disetel ulang, dan dipasang kembali. “Barangnya masih bagus semua,” katanya. “Cuma lama nggak dipakai. Mesin itu kayak orang, kalau kelamaan diam ya kaku.”
Total biayanya tidak sampai sepertiga hitungan bengkel kedua.
Kalau kamu punya kendaraan tua yang divonis mati
- Cari orang yang pernah pegang tipe itu waktu masih umum di jalan, bukan yang cuma baca katalog.
- Jangan mulai dari ganti. Mulai dari bersihkan dan setel ulang.
- Siapkan waktu, bukan cuma uang. Yang buru-buru biasanya berakhir ganti mesin.
- Simpan bekas onderdil lamanya. Suatu hari kamu akan senang pernah menyimpannya.
Hidup dengan motor yang tidak bisa diandalkan
Saya tidak mau berbohong: Vespa ini merepotkan. Starternya musiman. Kalau hujan deras, businya ngambek. Saya sudah tiga kali mendorongnya di tanjakan, satu kali di depan sekolahan, disaksikan anak-anak yang menyemangati dengan cara yang tidak membantu.
Tapi tiap Minggu pagi saya keluarkan. Jalannya pelan, tidak bisa dipaksa cepat, jadi saya pun tidak bisa buru-buru. Orang-orang tua di jalan sering melirik, beberapa mengangkat tangan. Ada bapak-bapak yang pernah menghentikan saya di lampu merah cuma untuk bilang bahwa dulu beliau punya yang sama, warna biru.
Anak saya sekarang lima tahun. Dia menyebut Vespa ini “motor berisik kakek”, padahal dia tidak pernah bertemu kakeknya. Entah dari mana dia dapat kalimat itu. Saya belum pernah mengoreksinya.