Lawak

Stand-up Pertama Saya Ditonton 4 Orang, 3 Di Antaranya Ibu Saya

Empat penonton. Satu ibu saya, satu adik saya, satu pacar adik saya, dan satu bapak-bapak yang jelas cuma numpang teduh. Malam itu saya belajar bahwa panggung tidak peduli pada niat baik.

Mikrofon tunggal di panggung gelap
Mikrofon yang sama, panggung yang sama, dan kursi yang sebagian besar kosong.

Saya daftar open mic itu dengan percaya diri yang tidak berdasar. Materinya sudah saya tulis dua minggu, saya latih di kamar mandi, dan saya bacakan ke istri saya yang tertawa di tiga tempat — dua di antaranya karena kasihan, seperti yang belakangan dia akui.

Acaranya di lantai dua sebuah kedai kopi. Kapasitas ruangan sekitar empat puluh orang. Yang datang, termasuk panitia dan pengisi acara lain, dua belas. Yang duduk sebagai penonton murni: empat.

Empat orang itu

Ibu saya, yang datang paling awal dan duduk paling depan, membawa termos. Adik saya, yang jelas dipaksa. Pacar adik saya, yang sopan sekali dan itu justru membuat saya makin gugup. Dan satu bapak-bapak berjaket ojek daring yang duduk di pojok, memegang ponsel, dan saya yakin sembilan puluh persen cuma sedang menunggu pesanan.

Saya naik panggung nomor urut tiga. Sebelum saya ada penampil yang main gitar dan menyanyi dua lagu. Dia bagus. Itu masalahnya.

Seseorang memetik gitar akustik sambil duduk
Pengisi acara sebelum saya. Dia tampil dua belas menit dan berhasil membuat orang bertahan.

Menit pertama: masih baik-baik saja

Bit pembuka saya soal nama saya yang sering salah dipanggil. Aman. Ibu saya tertawa. Adik saya tersenyum. Pacar adik saya tertawa kecil dengan volume yang sangat terukur.

Yang tidak saya perhitungkan: ruangan dengan empat orang itu punya akustik yang kejam. Setiap jeda terdengar. Setiap tawa yang tidak muncul terasa seperti benda padat yang jatuh ke lantai.

Menit ketiga: keheningan yang sempurna

Bit kedua saya panjang. Set-up-nya empat kalimat, dan punchline-nya bergantung pada satu kata di akhir. Di kamar mandi, ini lucu sekali.

Saya sampai di kata itu. Saya berhenti. Saya menunggu.

Yang terdengar cuma bunyi mesin espresso dari lantai bawah.

Ibu saya, dengan niat menyelamatkan, tertawa sendirian dan agak terlambat. Itu justru membuat semuanya lebih buruk, dan saya harus menahan diri untuk tidak bilang “makasih, Bu” ke mikrofon.

Tidak ada yang lebih jujur daripada empat orang di ruangan untuk empat puluh kursi. Mereka tidak bisa bersembunyi di belakang tawa orang lain, dan kamu juga tidak.

Menit keenam: bapak ojek itu

Di tengah bit ketiga, yang sudah saya bawakan dengan suara makin pelan karena kehilangan keyakinan, bapak di pojok itu tiba-tiba tertawa. Keras. Tawa asli, yang keluar dari perut dan diakhiri batuk kecil.

Yang lucu, dia tertawa bukan di punchline. Dia tertawa di kalimat set-up, bagian yang menurut saya paling biasa: soal ayah saya yang menyimpan obeng di kulkas.

Saya berhenti sebentar, lalu ikut tertawa. Setelah itu tujuh menit sisanya jadi jauh lebih mudah. Bukan karena materi saya membaik — materinya tetap setengah jadi — tapi karena saya berhenti berusaha menjadi orang lucu dan mulai sekadar bercerita.

Yang saya bawa pulang

Setelah turun panggung, bapak itu menghampiri saya, masih sambil memegang ponsel. Ternyata benar dia sedang menunggu pesanan. Pesanannya sudah datang sejak sepuluh menit sebelumnya, tapi dia memutuskan untuk menunggu saya selesai.

Katanya: “Bapak saya juga gitu, Mas. Obeng di kulkas, tang di rak sepatu.”

Itu tiga tahun lalu. Sekarang saya sudah tampil sekitar delapan puluh kali, pernah di depan tiga ratus orang, dan pernah juga di depan sebelas orang di sebuah acara ulang tahun kantor yang salah konsep.

Materi soal obeng di kulkas itu masih saya pakai sampai sekarang. Sudah saya perbaiki empat kali. Tapi bit itu tidak pernah selucu malam pertama, waktu dia belum saya niatkan jadi lucu.

Om Bambang

Penjaga pos ronda RW 04 sekaligus arsip berjalan lawakan bapak-bapak. Punya prinsip: lelucon yang bagus itu yang bikin orang diam dulu tiga detik.

Lihat semua tulisannya

Masih mau lanjut?

Cerita lain yang biasanya dibaca setelah ini

Semua cerita