Kumpulan Receh Bapak-Bapak Ronda yang Nggak Ada Obat
Empat malam saya mencatat semua lawakan yang keluar di pos ronda RW 04. Hasilnya 61 lelucon, dan cuma sembilan yang benar-benar lucu. Tapi sembilan itu bertahan lebih lama daripada semua konten yang saya tonton bulan itu.
Saya ikut ronda bukan karena rajin, tapi karena kena giliran. Jadwalnya Selasa malam, jam sepuluh sampai dua. Empat jam, lima orang, satu termos, dan satu papan catur yang tidak pernah selesai dimainkan.
Malam pertama saya bawa buku, dengan asumsi akan ada waktu senggang. Buku itu tidak saya buka sama sekali, empat malam berturut-turut.
Struktur lawakan bapak-bapak
Setelah empat malam mencatat, saya sadar lawakan di pos ronda punya pola yang cukup konsisten.
Jam sepuluh sampai sebelas adalah fase pemanasan: keluhan soal pekerjaan, harga, dan pemerintah. Belum ada lawakan, cuma sindiran.
Jam sebelas sampai satu adalah puncaknya. Ini fase pelesetan kata, tebak-tebakan, dan cerita lama yang diulang dengan bumbu baru. Kendali mutu di fase ini rendah sekali, tapi produktivitasnya tinggi.
Jam satu ke atas, kualitasnya jatuh bebas. Di fase ini, apa pun bisa jadi bahan tertawa, termasuk bunyi kursi. Saya pernah melihat lima orang dewasa tertawa selama hampir satu menit karena Pak Har salah menyebut kata “termos”.
Sembilan yang bertahan
Dari 61 yang saya catat, ini yang menurut saya layak dibawa pulang. Saya tulis apa adanya, termasuk yang buruk, karena yang buruk itu bagian dari bentuknya.
1. “Kenapa kalau ronda kita bawa senter, bukan lilin? Karena kalau bawa lilin, yang dicari maling malah kita.”
2. Pak Dirman, sambil menunjuk papan catur: “Ini catur sudah tiga tahun belum selesai. Bukan karena susah. Karena tiap yang mau menang keburu kena giliran ronda.”
3. “Kopi di pos ronda itu ada tiga tingkat: kopi, kopi encer, dan air berwarna kenangan.”
4. Tebak-tebakan Pak Har: “Ayam apa yang bikin RT panik? Ayam-bruk pagar tetangga.” Ini buruk sekali dan semua orang tertawa.
5. “Bedanya siskamling dulu sama sekarang: dulu kita jaga rumah orang. Sekarang kita jaga sinyal.”
6. Waktu ada motor lewat kencang: “Itu bukan ngebut, itu lagi mengejar harga bensin yang kemarin.”
7. “Ronda itu satu-satunya rapat di RW ini yang tidak pernah ada notulennya tapi keputusannya paling banyak dijalankan.”
8. Pak Slamet, pensiunan guru, soal cucunya: “Sekarang anak-anak nggak takut hantu lagi. Takutnya baterai dua persen.”
9. Ini yang paling saya suka. Jam setengah dua, semua sudah diam kecapekan. Lalu Pak Dirman berkata pelan, tanpa tertawa: “Enak ya. Kalau bukan karena ronda, kita nggak akan pernah duduk bareng selama ini.” Tidak ada yang menjawab. Lima detik kemudian Pak Har bilang: “Sudah, jangan mellow. Nanti disangka mau pinjam uang.”
Lelucon bapak-bapak itu jarang lucu karena isinya. Lucunya karena diucapkan jam satu malam oleh orang yang besok harus kerja.
Yang saya sadari di malam keempat
Empat malam mencatat membuat saya melihat satu hal yang tidak saya duga: hampir semua lawakan di pos ronda itu tentang hal-hal yang sebenarnya berat. Harga naik, kerjaan tidak pasti, anak yang susah diatur, badan yang sudah tidak sekuat dulu, tetangga yang sakit.
Tidak ada satu pun dari mereka yang membicarakan hal-hal itu secara langsung. Semuanya lewat lelucon. Dan setelah tertawa, biasanya ada jeda pendek yang isinya bukan apa-apa, dan setelah jeda itu obrolan lanjut ke hal lain.
Saya mulai curiga bahwa jeda pendek itu adalah bagian terpentingnya.
Sekarang saya sudah tidak pernah membawa buku ke pos ronda. Saya bawa termos yang lebih besar.