Otomotif

Modifikasi Motor Rp2 Juta yang Bikin Bengkel Ikut Bangga

Anggarannya dua juta, hasilnya bukan motor tercantik di kota. Tapi waktu saya bawa ke bengkel tempat saya dulu belajar, montir yang mengajari saya berhenti kerja sebentar cuma untuk melihat.

Motor klasik hasil modifikasi terparkir
Sebelum dicat ulang, tangkinya penyok di dua tempat. Satu penyok saya biarkan.

Motor ini saya beli seharga tiga juta dua ratus ribu dari tetangga yang mau pindah kota. Kondisi jalan, surat lengkap, tapi tampilannya sudah lelah: cat pudar, jok sobek, spakbor belakang penyok, dan lampu depan yang kalau malam lebih mirip lilin.

Anggaran modifikasi saya dua juta. Bukan angka yang saya pilih karena gaya — itu memang semua yang saya punya setelah dipotong kebutuhan lain.

Aturan yang saya buat sebelum mulai

Saya sudah cukup lama mengamati orang memodifikasi motor untuk tahu di mana uang biasanya bocor: beli barang karena kelihatan bagus di foto, bukan karena dibutuhkan.

Jadi saya buat tiga aturan. Pertama, semua yang menyangkut keselamatan didahulukan dan tidak boleh barang murah: rem, ban, lampu. Kedua, tampilan dikerjakan sendiri sebisanya. Ketiga, tidak beli apa pun yang tidak masuk daftar, sampai daftar sebelumnya selesai.

Ke mana perginya dua juta

Ban depan-belakang, Rp620 ribu. Ini pengeluaran terbesar dan tidak saya sesali sedetik pun. Ban lamanya sudah botak di bagian tengah.

Kampas rem dan minyak rem, Rp185 ribu. Sekalian kabel rem belakang diganti.

Servis mesin dan ganti oli, Rp310 ribu. Termasuk setel klep dan bersihkan karburator di bengkel langganan.

Lampu depan LED yang layak, Rp240 ribu. Bukan yang paling terang di toko, tapi yang sorotnya tidak menyilaukan orang dari arah berlawanan.

Cat, dempul, amplas, clear, Rp350 ribu. Dikerjakan sendiri di halaman belakang selama tiga akhir pekan.

Jok dibungkus ulang, Rp150 ribu. Ini satu-satunya pekerjaan tampilan yang saya serahkan ke orang, karena hasil jahitan saya akan jadi bencana.

Baut, kabel, sekring, lem, Rp145 ribu. Bagian yang selalu diremehkan dan selalu habis lebih banyak dari perkiraan.

Van kemah lawas terparkir di depan bangunan bercat putih
Prinsipnya sama untuk kendaraan apa pun yang sudah dianggap orang selesai umurnya.
Modifikasi yang bagus itu bukan yang paling banyak barunya. Yang bagus itu yang bikin motornya enak dipakai tiap hari tanpa bikin kamu waswas.

Bagian yang paling susah bukan mesinnya

Mengecat sendiri itu terlihat mudah di video berdurasi tiga menit. Kenyataannya, delapan puluh persen pekerjaannya ada di amplas dan dempul, dan tidak ada satu pun bagian itu yang menyenangkan.

Saya gagal di percobaan pertama. Cat mengelupas di bagian tangki karena permukaannya belum benar-benar bersih dari minyak. Saya harus mengulang dari awal, dan itu memakan satu akhir pekan penuh plus uang tambahan yang tidak ada di anggaran.

Satu penyok di sisi kiri tangki tidak saya perbaiki. Itu penyok dari kejadian tetangga saya menyerempet pagar waktu mengantar istrinya melahirkan. Ceritanya lebih berharga daripada permukaan yang rata.

Urutan yang saya sarankan kalau dananya terbatas

  • Ban, rem, lampu. Selesaikan tiga ini sebelum memikirkan warna.
  • Servis mesin menyeluruh sekali di awal, biar tahu kondisi sebenarnya.
  • Baru tampilan, dan kerjakan bertahap. Tidak harus selesai dalam satu bulan.
  • Sisakan sekitar sepuluh persen anggaran untuk hal yang tidak terduga. Pasti terpakai.

Momen yang saya tunggu tanpa sadar

Setelah semuanya selesai, saya bawa motor itu ke bengkel tempat saya dulu ikut-ikutan belajar waktu SMA. Bukan untuk diservis. Cuma lewat, sebetulnya.

Pak Warno, yang dulu paling sering mengusir saya karena kebanyakan bertanya, sedang mengerjakan sesuatu. Beliau berhenti, mengelap tangan, mengelilingi motor saya satu putaran penuh tanpa bicara.

Lalu beliau menunjuk sambungan kabel di dekat setang — satu-satunya bagian yang saya kerjakan paling rapi, dan yang saya pikir tidak akan diperhatikan siapa pun.

“Ini kamu sendiri?”

Saya jawab iya. Beliau mengangguk sekali, lalu kembali kerja. Sudah, itu saja.

Saya pulang dengan perasaan yang tidak sebanding dengan dua kata itu.

Gilang Saputra

Montir akhir pekan yang tangannya lebih pintar dari tulisannya. Percaya setiap kendaraan tua menyimpan satu cerita yang belum selesai.

Lihat semua tulisannya

Masih mau lanjut?

Cerita lain yang biasanya dibaca setelah ini

Semua cerita