Nyasar di Terminal Purabaya, Malah Diajak Kondangan Orang
Rencananya cuma transit dua jam di Purabaya. Yang terjadi: salah turun, salah gedung, salah sandal, dan foto saya sekarang ada di album pernikahan orang yang tidak saya kenal.
Saya ini tipe orang yang percaya diri di terminal. Bukan karena hafal, tapi karena gengsi bertanya. Sudah tiga kali saya lewat Purabaya dan tiga-tiganya lancar, jadi hari itu saya turun dari bus dengan sikap orang yang tahu jalan pulang. Padahal saya bahkan tidak tahu sedang di pintu mana.
Jadwal saya sederhana: transit dua jam, lanjut bus ke Malang, sampai sebelum magrib. Yang saya hitung cuma waktu. Yang tidak saya hitung: hujan gerimis, sandal jepit yang talinya sudah menipis, dan satu gedung serbaguna berpagar melengkung persis di seberang jalan.
Awalnya cuma numpang teduh
Gerimis turun waktu saya keluar mencari makan. Gedung itu terangnya paling menyenangkan di antara semua bangunan di sekitar terminal: lampu kuning, karpet merah keluar sampai trotoar, dan — ini bagian yang menjebak — dua orang berjas yang berdiri di pintu sambil tersenyum ke arah siapa pun yang lewat.
Saya masuk untuk teduh sepuluh menit. Belum sempat berdiri diam, seseorang menyalami saya, menepuk bahu saya, lalu bilang: “Wah, akhirnya datang juga. Ayo, makan dulu.”
Di titik itu ada dua pilihan. Pertama, menjelaskan bahwa saya orang asing yang cuma menghindari hujan. Kedua, mengikuti tangan yang sudah terlanjur menggandeng lengan saya menuju meja prasmanan. Saya memilih yang kedua, dan saya tahu persis kenapa: saya lapar.
Tidak ada yang lebih meyakinkan daripada orang yang salah tempat tapi kelihatan lapar dan sopan.
Empat puluh menit jadi tamu profesional
Saya duduk di meja nomor sembilan bersama enam orang yang semuanya mengaku “dari pihak mempelai wanita”. Saya mengangguk, ikut bilang begitu juga, dan dalam hitungan menit sudah terlibat percakapan serius soal harga cabai. Ibu di sebelah saya bertanya saya sepupu dari mana. Saya jawab: “Dari jauh, Bu.” Beliau puas. Saya juga.
Masalahnya datang waktu MC memanggil “keluarga besar untuk maju foto bersama”. Meja sembilan berdiri serentak. Saya, yang sudah dianggap bagian dari meja sembilan, ikut berdiri karena tidak enak. Lalu saya berjalan. Lalu saya naik panggung. Lalu saya berdiri di barisan kedua, persis di belakang bahu kanan pengantin pria, tersenyum ke kamera seperti orang yang punya sejarah panjang dengan keluarga itu.
Fotografernya bahkan sempat menyuruh saya geser sedikit ke kiri. Saya nurut. Saya profesional.
Ketahuan oleh sandal
Yang membongkar saya bukan wajah, tapi sandal. Turun dari panggung, seorang bapak melihat kaki saya lalu tertawa kecil: “Sampeyan ini tamu apa kurir?” Saya jelaskan sejujurnya — saya menumpang teduh, saya lapar, saya disalami duluan, dan saya terlalu sopan untuk mundur.
Beliau diam tiga detik. Lalu memanggil dua temannya. Lalu mereka bertiga tertawa cukup keras sampai orang di meja tujuh ikut menoleh. Yang saya kira akan jadi momen paling memalukan seumur hidup malah berubah jadi sesi perkenalan. Saya diberi satu kotak makanan untuk di jalan, satu botol air, dan nasihat: “Kalau nyasar lagi, cari yang catering-nya bagus.”
Bus saya berangkat jam tujuh lewat. Saya sampai Malang tengah malam, kekenyangan, dan agak bingung dengan diri sendiri.
Tiga bulan kemudian ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya satu foto: barisan kedua, bahu kanan pengantin pria, orang bersandal jepit tersenyum lebar. Keterangannya cuma satu kalimat. “Mas, ini siapa ya? Sudah kami cari ke semua keluarga.”
Saya balas: “Tamu yang kehujanan. Terima kasih soto-nya.” Sampai sekarang belum dibalas, tapi pesannya dibaca. Saya anggap itu restu.