Air Terjun yang Katanya Sepi, Ternyata Ada 3 Grup Prewedding
Katanya tersembunyi, katanya belum banyak yang tahu, katanya cuma warga sekitar yang ke sana. Waktu saya sampai, sudah ada tiga rombongan prewedding dan satu drone yang berisik sekali.
Saya menemukan tempat ini dari sebuah unggahan dengan keterangan yang sekarang saya curigai keasliannya: “hidden gem, masih sepi, jangan viralkan ya.” Unggahan itu punya empat puluh ribu suka.
Untuk sampai ke sana, saya bangun jam tiga pagi, naik motor dua jam, dan berjalan kaki empat puluh menit melewati jalur setapak yang licin. Sepanjang jalan saya membayangkan berdiri sendirian di depan air terjun, mendengar suara air, dan merasa jadi orang pertama yang menemukannya.
Yang saya temukan jam setengah tujuh pagi
Tiga rombongan prewedding. Bukan tiga orang — tiga rombongan, lengkap dengan fotografer, asisten fotografer, penata rias, pemegang reflektor, dan dalam satu kasus, pemegang kipas angin bertenaga baterai untuk membuat gaun berkibar.
Ada satu drone yang terbang berputar-putar dengan suara seperti lebah raksasa, dan seorang bapak yang berteriak memberi aba-aba “senyum, tahan, jangan kedip” dengan volume yang bisa didengar dari seberang lembah.
Air terjunnya bagus. Sangat bagus. Tapi saya tidak bisa mendengarnya.
Tidak ada tempat sepi yang tetap sepi setelah difoto dengan bagus. Itu bukan kutukan, itu cuma matematika.
Saya sempat kesal, lalu duduk, lalu berubah pikiran
Selama sekitar setengah jam saya duduk di batu agak jauh, dengan sikap orang yang merasa pengalamannya dirusak. Saya sempat menyusun kalimat pedas di kepala untuk saya tulis nanti.
Lalu saya perhatikan rombongan yang paling dekat. Calon pengantinnya masih muda sekali. Si perempuan berdiri di air yang jelas dingin, memakai gaun yang jelas berat, dan sudah dua puluh menit mempertahankan senyum. Ibunya berdiri di pinggir memegang termos dan handuk, dan setiap kali ada jeda, langsung maju menyelimuti anaknya.
Fotografernya, yang tadi saya anggap biang berisik, ternyata bekerja dengan sangat hati-hati: menyuruh berhenti tiap sepuluh menit, memastikan yang difoto tidak kedinginan, dan berkali-kali bertanya “masih kuat?”
Mereka bukan perusak suasana saya. Mereka orang-orang yang sedang menandai hari penting dengan cara yang mereka mampu.
Kesepakatan tidak tertulis di air terjun
Yang menarik, ketiga rombongan itu punya sistem antre yang rapi tanpa ada yang mengaturnya. Setiap rombongan dapat giliran sekitar dua puluh menit di titik terbaik, sementara yang lain memakai titik lain. Fotografer saling memberi kode. Ada yang meminjamkan reflektor. Satu rombongan menawarkan minum ke rombongan lain.
Waktu giliran kosong sekitar jam sembilan, salah satu fotografer justru memanggil saya: “Mas, ayo sekarang, lima menit kosong.”
Saya turun, berdiri di depan air terjun itu, sendirian, selama kira-kira empat menit. Cukup untuk mendengar suaranya. Cukup untuk mengambil satu foto tanpa siapa pun di dalamnya.
Kalau kamu mau ke tempat yang “masih sepi”
- Datang di hari kerja. Perbedaannya jauh lebih besar daripada datang lebih pagi.
- Musim prewedding biasanya menjelang akhir tahun dan sebelum musim hujan puncak.
- Kalau sudah ramai, tanya baik-baik. Biasanya orang justru memberi giliran.
- Jangan percaya keterangan “jangan viralkan” pada unggahan yang sudah viral.
Saya pulang jam sebelas. Di jalan setapak, papasan dengan rombongan keempat yang baru naik, lengkap dengan gaun di dalam plastik dan satu orang menggendong kipas angin.
Saya bilang ke mereka: “Masih ada tempat, Mas. Antre sebentar aja.”