Mesin Ngadat di Tengah Tol, Ditolong Rombongan Klub Motor
Mobil mati di lajur tengah, hujan mulai turun, dan anak saya di kursi belakang bertanya kenapa kita berhenti. Yang menolong bukan derek, bukan aplikasi, tapi sebelas motor yang kebetulan lewat.
Kejadiannya di kilometer 61, arah timur, sekitar jam empat sore. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya — tidak ada bunyi aneh, tidak ada lampu indikator, tidak ada bau. Pedal gas saya injak, mobilnya tidak merespons, dan dalam sepuluh detik kecepatan turun dari delapan puluh ke nol.
Saya sempat membanting setir ke kiri, tapi cuma dapat setengah lajur. Mobil berhenti dengan separuh badan masih di lajur tengah. Ini bagian yang sampai sekarang kalau saya ingat masih bikin telapak tangan basah.
Lima menit pertama
Yang saya lakukan, berurutan: nyalakan lampu hazard, minta anak saya tetap duduk dan pasang sabuk, keluar lewat pintu kiri, dan memasang segitiga pengaman. Segitiganya, syukurlah, ada. Selama bertahun-tahun benda itu cuma jadi penghuni bagasi yang saya anggap formalitas.
Saya telepon layanan darurat tol. Diangkat cepat, dijanjikan unit datang. Saya telepon asuransi. Diangkat, diminta menunggu. Sementara itu kendaraan lewat di sebelah kanan dengan kecepatan penuh, dan setiap truk yang lewat membuat mobil saya bergetar.
Hujan mulai turun di menit kedelapan.
Di jalan tol, berdiri di samping mobil mogok itu bukan cuma soal menunggu. Itu soal menghitung detik sambil berharap semua orang di belakang sedang melihat ke depan.
Sebelas motor dan satu bendera
Yang berhenti pertama bukan petugas. Satu rombongan motor besar, sebelas unit, jaket kulit hitam dengan emblem yang saya tidak kenal. Terus terang, reaksi pertama saya bukan lega.
Empat motor melewati saya lalu berhenti sekitar tiga puluh meter di depan. Tujuh sisanya berhenti di belakang, berjajar miring, membentuk barisan dengan lampu menyala semua. Salah satu dari mereka turun membawa bendera kecil dan berdiri sekitar lima puluh meter di belakang, mengibarkan bendera itu ke arah kendaraan yang datang.
Baru setelah itu satu orang menghampiri saya dan bertanya: “Ada anak di dalam, Pak?”
Anak saya dan saya dipindahkan ke balik pembatas, di sisi kiri, di tempat yang lebih aman. Salah satu dari mereka membuka jas hujan dan memberikannya ke anak saya, yang waktu itu umurnya enam tahun dan lebih tertarik pada motor-motor besar itu daripada pada situasinya.
Masalahnya ternyata sepele, dan itu memalukan
Dua orang dari rombongan itu memeriksa mesin. Sekitar sepuluh menit, dengan senter dari ponsel karena hujan sudah membuat sore jadi gelap.
Penyebabnya: sekring pompa bahan bakar putus, dan dudukannya kotor sekali. Salah satu dari mereka punya sekring cadangan di jok motornya — ukurannya kebetulan cocok. Dibersihkan, dipasang, mesin hidup di percobaan pertama.
Saya sudah pernah dengar bahwa hal-hal besar sering disebabkan hal kecil. Tapi ada rasa tersendiri waktu tahu bahwa dua puluh menit paling menakutkan dalam hidup saya disebabkan oleh benda seharga kurang dari sepuluh ribu rupiah.
Yang sekarang selalu ada di mobil saya
- Kotak sekring cadangan, lengkap semua ukuran. Harganya murah sekali dibanding paniknya.
- Segitiga pengaman, dua buah, dan rompi terang di bawah kursi — bukan di bagasi.
- Senter kecil yang bukan senter ponsel.
- Nomor darurat tol disimpan di kontak, bukan dicari waktu sedang gemetar.
Yang tidak sempat saya lakukan
Petugas tol datang sekitar lima menit setelah mesin hidup. Rombongan itu pamit hampir bersamaan. Saya sempat menawarkan uang — refleks yang sekarang saya sesali karena terasa merendahkan — dan ditolak dengan cara yang halus: “Simpan aja buat servis, Pak. Mobilnya perlu diperiksa.”
Saya cuma sempat tahu nama klubnya dari emblem di punggung, itu pun setengah tertutup jas hujan. Saya sudah mencari di internet dan menemukan beberapa kemungkinan, tapi tidak ada yang saya yakini benar.
Anak saya sekarang sembilan tahun. Kalau ada rombongan motor lewat di jalan, dia masih menoleh. Kalau ada yang bertanya kenapa, dia jawab: “Dulu kami ditolong yang kayak gitu.”