Nonton Konser dari Balik Pagar: Suara Bass dan Air Mata
Tiket habis dalam empat menit dan saldo saya kurang tiga ratus ribu. Jadi saya berdiri di luar pagar bersama sekitar tiga puluh orang lain, dan malam itu ternyata jadi konser terbaik yang pernah saya datangi.
Saya sudah menyiapkan diri sejak sebulan sebelumnya: alarm, dua perangkat, tiga tab browser, dan satu kartu yang saldonya sudah saya isi. Tiket habis dalam empat menit. Bukan salah siapa-siapa. Saya cuma kalah cepat, dan kalah saldo.
Yang tidak saya sangka, saya tetap berangkat malam itu. Bukan untuk masuk. Untuk berdiri di luar.
Ternyata bukan cuma saya
Saya kira saya akan sendirian, dan itu akan menyedihkan. Ternyata di sisi timur venue, di sepanjang pagar seng dekat lahan parkir, sudah ada sekitar tiga puluh orang. Ada yang duduk di trotoar. Ada yang bawa tikar. Ada pasangan yang membawa termos dan dua gelas.
Tidak ada yang saling kenal di awal, tapi dalam sepuluh menit sudah ada pembagian peran. Ada satu anak yang naik ke tembok rendah dan jadi pelapor: dia yang mengabarkan lagu apa yang sedang dimainkan berdasarkan intro yang terdengar. Ada ibu-ibu penjual minuman yang tiba-tiba jadi bagian dari rombongan.
Yang terdengar dari luar pagar
Suara dari luar itu aneh. Bass-nya sampai sempurna — kamu bisa merasakannya di dada, sama persis seperti di dalam. Vokalnya yang hilang. Jadi yang kami dengar semalaman itu seperti lagu yang dinyanyikan dari kamar sebelah oleh orang yang kamu kenal betul.
Anehnya, itu tidak membuat orang diam. Justru semua orang di luar pagar menyanyi lebih keras, karena harus mengisi bagian yang hilang. Tiga puluh orang yang tidak saling kenal, menyanyikan lagu yang sama, sambil menatap pagar seng.
Di dalam, orang membayar untuk mendengar. Di luar, orang berkumpul untuk menyanyi. Malam itu saya tidak yakin siapa yang dapat porsi lebih baik.
Lagu keenam
Ada satu lagu yang saya tunggu, dan saya sudah pasrah tidak akan mendengarnya dengan layak. Lagu yang dulu saya putar berulang-ulang waktu tahun pertama merantau, di kamar kos yang jendelanya menghadap tembok.
Waktu intronya mulai, anak yang berdiri di tembok itu berteriak memberi tahu judulnya. Lalu terjadi hal yang tidak saya duga: rombongan di luar pagar diam. Bukan diam yang canggung. Diam yang sengaja, supaya bisa mendengar lebih jelas.
Ibu penjual minuman berhenti menuang. Pasangan dengan termos itu berhenti mengobrol. Sekitar dua menit, satu-satunya suara adalah bass yang menembus seng dan suara kendaraan di jalan raya.
Saya menangis, dan saya tidak berusaha menyembunyikannya karena gelap dan karena tidak ada yang memperhatikan. Waktu saya lihat sekeliling di akhir lagu, ternyata bukan cuma saya.
Yang terjadi setelah lampu venue mati
Setelah konser bubar, kami tidak langsung pulang. Ada yang membagikan air. Anak yang di tembok turun dan disalami seperti pahlawan. Seseorang mengusulkan tahun depan menabung bareng, dan nomor-nomor telepon mulai berpindah — termasuk nomor saya.
Grup itu masih ada sampai sekarang. Namanya, tanpa perlu diperdebatkan, “Pagar Timur”.
Tahun berikutnya kami patungan dan tujuh orang berhasil masuk. Saya salah satunya. Konsernya bagus, sound-nya jelas, saya bisa lihat wajah personel dari jarak dua puluh meter.
Tapi kalau ditanya konser mana yang paling saya ingat, jawabannya tetap yang di luar pagar.