Pura-pura Ngerti Saat Ditanya Kamu Paham Selama 3 Tahun
Semua berawal dari satu anggukan di rapat pertama. Tiga tahun kemudian saya masih mengangguk, dan sekarang saya yang diminta menjelaskan hal itu ke karyawan baru.
Hari kelima saya di kantor itu, ada rapat divisi. Di tengah rapat, manajer saya menyebut satu istilah, lalu menoleh ke saya dan bertanya: “Kamu paham, kan?”
Ada dua jawaban yang tersedia. Jawaban pertama akan membuat rapat berhenti sepuluh menit untuk menjelaskan sesuatu kepada anak baru. Jawaban kedua cuma butuh satu gerakan kepala.
Saya mengangguk.
Tahun pertama: teknik bertahan hidup
Bulan-bulan pertama saya kembangkan sistem yang cukup canggih untuk orang yang tidak tahu apa-apa.
Pertama, catat istilahnya diam-diam dengan ejaan seadanya, lalu cari di rumah malam harinya. Masalahnya, beberapa istilah itu singkatan internal yang tidak ada di internet mana pun. Saya pernah menghabiskan empat puluh menit mencari sesuatu yang ternyata singkatan nama tiga orang yang membuat sistemnya di tahun 2016.
Kedua, kalau ditanya pendapat, balikkan pertanyaannya. “Menurut Mbak sendiri gimana?” Efektivitasnya tinggi, tapi tidak bisa dipakai dua kali dalam satu rapat.
Ketiga, dan ini yang paling sering, ambil satu kata dari kalimat orang lain lalu ulangi dengan nada berpikir. “Iya, soal dependensinya ini yang perlu kita lihat.” Saya tidak tahu dependensinya apa. Tapi rapat lanjut, dan kadang itu saja yang dibutuhkan.
Setiap kali saya mengangguk, biaya untuk mengaku bertambah sedikit. Setelah tiga tahun, biayanya jadi terlalu mahal untuk dibayar sekaligus.
Tahun kedua: masalahnya membesar sendiri
Di tahun kedua saya dipromosikan. Bukan karena pura-pura paham — kerjaan saya yang lain memang beres. Tapi promosi itu artinya saya mulai memimpin rapat, dan orang mulai bertanya ke saya.
Saya jadi ahli dalam seni menjawab tanpa menjawab. “Itu tergantung konteksnya.” “Coba kita lihat dari sisi pengguna dulu.” “Saya lebih suka kita putuskan setelah datanya lengkap.” Kalimat-kalimat itu terdengar bijak dan tidak mengandung informasi apa pun.
Yang menyelamatkan saya adalah kenyataan bahwa istilah itu, ternyata, jarang benar-benar dipakai. Dia lebih sering muncul sebagai hiasan kalimat daripada sebagai hal yang harus dikerjakan.
Tahun ketiga: seorang anak baru bertanya
Namanya Sekar, masuk bulan Maret, dan dia melakukan satu hal yang tidak pernah berani saya lakukan. Di rapat keduanya, waktu istilah itu muncul, dia mengangkat tangan dan bilang: “Maaf, saya belum paham. Bisa dijelaskan?”
Saya siap-siap melihat ruangan jadi canggung.
Yang terjadi: manajer saya menjelaskan selama dua menit, dua orang lain ikut bertanya, dan salah satu dari mereka — yang sudah bekerja tujuh tahun di sana — berkata: “Oh, saya kira artinya beda selama ini.”
Tujuh tahun.
Penjelasannya ternyata dua kalimat
Istilah yang selama tiga tahun saya hindari itu, kalau dijelaskan dengan bahasa manusia, cuma berarti: urutan pekerjaan yang tidak boleh ditukar karena yang satu butuh hasil yang lain. Itu saja. Saya sudah melakukannya tiap hari tanpa tahu namanya.
Setelah rapat, saya menghampiri Sekar dan bilang terima kasih. Dia bingung. Saya jelaskan singkat, tanpa menyebutkan angka tiga tahun, karena saya masih punya sisa harga diri.
Sekarang di tim saya ada satu aturan yang saya buat sendiri: di rapat pertama orang baru, saya yang bertanya duluan tentang satu istilah yang saya sudah tahu artinya. Supaya orang baru itu melihat bahwa bertanya tidak menurunkan derajat siapa pun.
Tidak ada yang tahu kenapa saya melakukan itu. Sekarang sudah ada yang tahu.