Lucu

Kucing Saya Ketiduran di Helm, Saya Telat Rapat 40 Menit

Ada dua pilihan pagi itu: bangunkan dia dan jadi orang jahat, atau telat dan jadi orang sabar. Saya pilih yang kedua. Bos saya punya pendapat berbeda.

Kucing tidur meringkuk dengan nyaman
Bukan kucing saya yang di foto, tapi ekspresinya sama persis: nyaman dan tidak peduli.

Saya bangun jam enam lewat sedikit, mandi cepat, sarapan berdiri, dan sampai di teras jam setengah tujuh dengan perasaan menang. Rapat saya jam delapan, jaraknya empat puluh menit. Untuk pertama kalinya dalam sebulan, saya tidak akan masuk ruangan sambil minta maaf.

Lalu saya lihat helm saya di atas jok. Di dalamnya, melingkar sempurna seperti donat, kucing oranye yang beberapa bulan terakhir menganggap teras saya sebagai propertinya.

Perhitungan yang saya lakukan dalam sepuluh detik

Pertama, saya coba angkat helmnya pelan. Dia buka mata setengah, melihat saya, lalu menutup mata lagi dengan gerakan yang jelas artinya: tidak.

Kedua, saya coba miringkan. Dia menyesuaikan posisi badan mengikuti kemiringan, seperti penumpang profesional.

Ketiga, saya coba panggil pakai suara yang biasanya berhasil. Ekornya bergerak satu kali. Itu saja.

Keempat, saya berdiri diam selama mungkin satu menit penuh sambil memegang kunci motor, mempertimbangkan hidup saya secara umum.

Kucing berbaring santai di dekat kaki seseorang
Posisi favoritnya kalau saya sedang buru-buru. Selalu.
Kucing tidak melawan. Kucing cuma menunggu sampai kamu merasa bersalah, dan itu jauh lebih efektif.

Yang terjadi dalam empat puluh menit berikutnya

Saya duduk di anak tangga teras. Saya buka ponsel. Saya kirim pesan ke tim: “Otw, sedikit terlambat.” Kata “sedikit” di situ adalah kebohongan yang saya sesali.

Menit kelima, saya mulai membenarkan diri. Kucing itu tidur nyenyak sekali. Kalau saya bangunkan, dia akan kaget. Kalau dia kaget, dia akan lari. Kalau dia lari, mungkin dia tidak balik lagi. Logika ini sangat lemah dan saya tahu itu.

Menit kelima belas, tetangga saya lewat, melihat saya duduk sambil memegang helm kosong di tangan dan menatap motor. Beliau tidak bertanya apa-apa. Cuma mengangguk. Saya hargai itu.

Menit ketiga puluh, saya sudah menyeduh kopi dan membaca berita di anak tangga yang sama. Ini bagian yang aneh: saya mulai menikmatinya. Pagi itu jadi satu-satunya pagi dalam beberapa bulan terakhir di mana saya duduk diam tanpa merasa harus segera pindah.

Menit keempat puluh, dia bangun sendiri. Menggeliat panjang, turun dari helm, lalu pergi ke arah pagar tanpa menoleh sama sekali. Tidak ada terima kasih. Tidak ada penjelasan.

Rapatnya bagaimana?

Saya masuk jam delapan lewat empat puluh dua. Bos saya bertanya kenapa. Saya, karena tidak pandai mengarang, menjawab sejujurnya.

Ada jeda sekitar empat detik. Lalu beliau bilang: “Kucingnya oranye?” Saya jawab iya. Beliau mengangguk pelan seperti orang yang menerima kabar yang sudah lama diduganya, lalu bilang rapat lanjut.

Setelah rapat, saya dikirimi satu foto lewat chat. Kucing oranye tidur di atas tas kerja. Tidak ada teks apa pun.

Bulan berikutnya saya beli helm kedua. Bukan buat tamu. Buat dia.

Bang Yudha

Tukang cerita di grup keluarga yang akhirnya dikasih tempat menulis biar berhenti spam. Spesialis kejadian memalukan yang menimpa dirinya sendiri.

Lihat semua tulisannya

Masih mau lanjut?

Cerita lain yang biasanya dibaca setelah ini

Semua cerita