Lucu

Salah Kirim I Love You ke Grup RT, Pak Ketua Balas Aamiin

Tiga detik antara menekan kirim dan menyadari nama grupnya salah. Tiga detik yang mengubah panggilan saya di RW 04 sampai hari ini.

Sekelompok teman tertawa sambil berbaring di bak mobil
Teman-teman saya masih tertawa. Sudah dua tahun. Belum ada tanda-tanda berhenti.

Saya punya dua grup yang namanya mirip. Yang satu “RT 04 Guyub”, isinya empat puluh tiga bapak-ibu tetangga plus Pak Ketua. Yang satu “RR”, isinya cuma saya dan pacar saya. Di daftar chat, keduanya sering berdampingan karena sama-sama aktif tiap malam.

Malam itu saya sedang di kamar, lampu mati, ponsel dipegang di atas muka seperti posisi paling berbahaya yang pernah diciptakan manusia. Pacar saya baru selesai cerita soal harinya yang berat. Saya ketik satu kalimat pendek, dua kata, dengan emoji hati yang terlalu besar.

Kirim.

Detik pertama: tenang

Balon chat naik. Warnanya biru. Saya sempat merasa jadi orang yang perhatian.

Detik kedua: ada yang aneh

Di atas balon chat ada foto profil grup. Foto itu bukan foto kami berdua di pantai. Foto itu spanduk lomba 17 Agustus tahun lalu.

Detik ketiga: dingin dari tengkuk sampai kaki

Saya sudah pernah baca soal reaksi tubuh manusia saat panik. Tapi tidak ada artikel yang menyiapkan saya untuk sensasi melihat tulisan “I love you ❤” berdiri sendirian di bawah pesan Pak RT soal jadwal kerja bakti hari Minggu.

Saya tekan tahan. Hapus untuk semua. Muncul tulisan yang sampai sekarang masih saya benci: pesan ini telah dihapus. Terlambat. Di grup empat puluh tiga orang, ada minimal delapan orang yang ponselnya tidak pernah lepas dari tangan.

Beberapa orang tertawa bersama di luar ruangan
Reaksi standar setiap kali ada orang baru diberi tahu cerita ini.
Fitur hapus pesan itu bukan penyelamat. Itu cuma cara sopan untuk mengumumkan bahwa kamu baru saja melakukan sesuatu yang fatal.

Balasan yang tidak saya duga

Yang pertama membalas Pak Ketua RT. Umur enam puluh dua, tipe orang yang mengetik dengan dua jari telunjuk dan selalu memakai titik di akhir kalimat. Balasannya satu kata.

“Aamiin.”

Setelah itu grup meledak. Bu Nining mengirim tujuh stiker beruntun. Pak Har bertanya apakah ini pengumuman resmi. Ada yang mengira saya mau melamar seseorang di grup. Ada yang menanyakan tanggal acaranya. Seseorang, sampai sekarang saya tidak tahu siapa, mengirim tautan lagu dangdut yang judulnya terlalu tepat.

Saya melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukan manusia dalam situasi itu: menaruh ponsel di laci, mematikan lampu, dan berbaring menghadap tembok.

Akibat jangka panjang

Besoknya saya keluar rumah untuk beli galon. Belum sampai ujung gang, tiga orang menyapa dengan nada yang sama: “Pagi, Mas Sayang.”

Julukan itu bertahan. Dua tahun. Di undangan syukuran Bu Nining, nama saya ditulis begitu. Di daftar iuran keamanan, tulisannya sudah dikoreksi tapi masih kebaca bekas tip-ex-nya. Waktu saya benar-benar melamar pacar saya, delapan bulan kemudian, Pak Ketua RT hadir dan menyampaikan satu kalimat sambutan yang bikin ruangan tertawa selama hampir satu menit penuh.

“Akhirnya. Kami di grup sudah menunggu sejak dua tahun lalu.”

Saya sudah berhenti berusaha meluruskan. Sekarang kalau ada tetangga baru pindah, biasanya dalam seminggu mereka sudah tahu ceritanya, dan biasanya bukan dari saya.

Bang Yudha

Tukang cerita di grup keluarga yang akhirnya dikasih tempat menulis biar berhenti spam. Spesialis kejadian memalukan yang menimpa dirinya sendiri.

Lihat semua tulisannya

Masih mau lanjut?

Cerita lain yang biasanya dibaca setelah ini

Semua cerita