Kuliner

Rahasia Sate yang Bikin Antre 1 Jam: Kipas Bambu dan Kesabaran

Pak Umar menolak pakai kipas listrik. Katanya, angin dari mesin bikin arang panik. Saya tidak paham logikanya, tapi setelah tiga jam berdiri di sebelah bakarannya, saya berhenti membantah.

Penjual membakar sate di atas arang
Tiga jam di depan bara, satu kipas bambu, dan antrean yang tidak pernah putus sejak jam lima.

Warung sate ini tidak punya nama. Orang menyebutnya “sate depan apotek”. Buka jam lima sore, dan kalau kamu datang jam tujuh, siap-siap menunggu satu jam. Bukan karena ramai saja, tapi karena Pak Umar tidak mau membakar lebih dari dua puluh tusuk sekaligus.

Saya datang untuk menulis ulasan singkat. Rencananya satu jam. Saya pulang jam sebelas malam dengan baju bau asap dan catatan enam halaman.

Soal kipas listrik itu

Pertanyaan pertama saya yang bodoh: kenapa tidak pakai kipas listrik saja biar cepat? Sudah banyak yang murah, tinggal colok.

Beliau menjawab tanpa berhenti mengipas: “Angin mesin itu satu arah dan tidak berhenti. Aranya jadi panik, apinya naik, dagingnya gosong di luar tapi di dalam masih dingin. Kipas tangan itu bisa saya atur. Saya lihat dulu mana yang perlu.”

Kata “panik” itu jelas bukan istilah teknis. Tapi setelah saya perhatikan tiga jam, maksudnya masuk akal: beliau mengipas berbeda-beda untuk setiap bagian bakaran. Sudut kanan dikipas pelan karena baranya masih muda. Tengah hampir tidak dikipas. Kiri, tempat tusuk yang hampir matang, dikipas cepat beberapa kali lalu berhenti.

Ikan dan makanan dipanggang di atas bara api
Prinsip yang sama beliau pakai untuk apa pun yang masuk ke atas bara.
Yang orang kira kelambatan, sebetulnya perhatian. Dua hal itu sering tertukar di jaman sekarang.

Bumbunya justru bukan rahasia

Saya tanya soal bumbu. Beliau langsung menyebutkan semuanya: kacang tanah digoreng sendiri, kemiri, bawang putih, gula merah dari pasar sebelah, sedikit asam. Tidak ada yang disembunyikan. Bahkan takarannya beliau sebutkan.

“Silakan ditulis semua. Nggak apa-apa,” katanya. “Yang susah ditiru itu bukan bumbunya.”

Yang susah ditiru, menurut beliau, ada tiga: memilih daging dengan lemak yang cukup tapi tidak berlebihan, memotong searah serat dengan ukuran yang seragam, dan sabar berdiri di depan bara selama enam jam tanpa terburu-buru menyelesaikan antrean.

Antrean satu jam dan orang-orang di dalamnya

Bagian yang tidak saya duga: antrean itu punya kebiasaan sendiri. Orang saling menyapa. Ada bapak yang setiap Kamis datang dan selalu memesan dua porsi, satu dimakan di tempat, satu dibawa pulang untuk istrinya yang sudah tidak kuat duduk lama. Ada anak kuliah yang menunggu sambil mengerjakan tugas di trotoar.

Ada juga yang datang, melihat antrean, lalu pergi. Pak Umar tidak pernah menahan. “Nggak apa-apa. Nanti dia balik kalau sudah kangen.”

Kalau mau bikin sate yang tidak gosong di rumah

  • Potong daging seragam. Ukuran beda bikin matangnya beda, sesabar apa pun kamu mengipas.
  • Bakar dua tahap: jauh dari bara dulu sampai berubah warna, baru dekatkan untuk warna akhir.
  • Bumbu kacang dioles di akhir saja. Kalau dari awal, gulanya gosong duluan.
  • Jangan pakai kipas listrik. Ini bukan mistis, ini soal kamu jadi tidak memperhatikan.

Yang saya bawa pulang

Ulasan saya akhirnya cuma tiga paragraf, dan dua di antaranya tentang kipas bambu. Satenya memang enak — empuk, manisnya pas, bakarannya rata sampai ke tengah. Tapi bukan itu yang saya ingat.

Yang saya ingat: menjelang tutup, ada anak kecil datang membawa uang lima ribu. Pak Umar memberinya tiga tusuk tanpa berkata apa-apa, lalu mengembalikan uangnya sambil bilang: “Bilang sama ibumu, besok bayar kalau lewat.”

Saya sudah balik ke sana enam kali. Belum pernah lagi bertanya soal bumbu.

Sari Melati

Pemburu warung yang mejanya goyang dan sendoknya tidak seragam. Menolak menilai makanan dari foto, harus datang, duduk, dan ngobrol dengan yang masak.

Lihat semua tulisannya

Masih mau lanjut?

Cerita lain yang biasanya dibaca setelah ini

Semua cerita