Umpan Rahasia Kakek Saya: Adonan Roti dan Sedikit Doa
Adonan roti tawar, sedikit air kolam, dan doa yang diucapkan pelan sebelum lempar pertama. Saya baru paham bagian doanya setelah kakek saya tidak ada.
Kakek saya bukan pemancing hebat. Beliau pemancing sabar, dan di keluarga kami dua hal itu sudah lama dianggap sama. Setiap Sabtu sore, dari saya umur enam sampai dua belas, saya diboncengkan ke kolam pemancingan di belakang pabrik tahu.
Yang beliau bawa selalu sama: joran satu, ember satu, koran satu untuk alas duduk, dan satu kantong plastik berisi roti tawar yang sudah agak keras.
Resep umpannya, yang ternyata tidak rahasia sama sekali
Saya kira ini rahasia keluarga. Setelah dewasa saya baru tahu ini umpan yang dipakai separuh bapak-bapak di kolam mana pun di Indonesia. Tapi cara kakek saya membuatnya punya urutan yang tidak pernah beliau langkahi.
Roti tawar dibuang pinggirannya. Bagian tengahnya diremas pelan — pelan, bukan diuleni — sambil ditetesi air kolam, bukan air minum. Katanya supaya baunya “nggak asing buat ikannya”.
Kalau adonannya terlalu lembek, ditambah sedikit remah roti kering. Kalau terlalu keras, ditetesi lagi. Ukurannya tidak pernah pakai takaran. Beliau menilai dari cara adonan itu jatuh kalau dijatuhkan dari tangan.
Bagian yang saya kira cuma kebiasaan
Sebelum lemparan pertama, kakek selalu diam sebentar, memegang joran dengan dua tangan, lalu mengucapkan sesuatu dengan suara sangat pelan. Saya tidak pernah dengar isinya. Waktu saya kecil, saya pernah bertanya apa itu doa supaya dapat ikan.
Beliau jawab: “Bukan. Itu doa supaya nggak dapat pun nggak apa-apa.”
Umur sembilan tahun, kalimat itu masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Umur tiga puluh empat, kalimat itu duduk cukup lama di dada.
Umpannya memang roti. Yang bikin beliau betah tiga jam di kolam bukan rotinya.
Yang saya lakukan salah selama bertahun-tahun
Setelah kakek meninggal, saya sempat berhenti mancing tujuh tahun. Waktu mulai lagi, saya pakai semua peralatan modern yang bisa saya beli, dan hasilnya lumayan. Tapi ada yang hilang, dan waktu itu saya kira yang hilang cuma nostalgia.
Suatu sore saya iseng bikin umpan roti seperti dulu. Gagal total. Adonannya hancur di air, tidak sampai lima detik. Saya coba lagi minggu berikutnya, gagal lagi.
Baru di percobaan keempat saya sadar apa yang saya lewatkan: saya meremasnya terlalu kuat dan terlalu lama. Adonan jadi padat dan berminyak, dan begitu kena air langsung pecah. Kakek meremas sebentar saja, lalu berhenti, meskipun kelihatannya belum rata.
Umpan roti yang tidak hancur di air
- Pakai roti tawar yang sudah didiamkan semalam, jangan yang masih lembut sekali.
- Buang pinggirannya. Bagian itu bikin adonan keras.
- Basahi dengan air dari kolam atau sungai tempat kamu mancing, bukan air kemasan.
- Remas maksimal sepuluh detik. Kelihatan belum rata itu justru benar.
- Bentuk bulat kecil seukuran kelereng dan tekan sekali di kail, jangan diputar-putar.
Sabtu sore sekarang
Anak saya sekarang tujuh tahun, umur yang sama dengan saya waktu pertama kali dibawa ke kolam itu. Kolam belakang pabrik tahunya sudah tutup, jadi kami pergi ke kolam lain yang lebih jauh dan lebih ramai.
Dia belum bisa diam lebih dari dua puluh menit. Dia lebih tertarik pada kucing kolam daripada jorannya sendiri. Saya tidak memaksa.
Yang saya lakukan cuma satu: sebelum lemparan pertama, saya diam sebentar, memegang joran dengan dua tangan, dan mengucapkan sesuatu dengan suara sangat pelan.
Minggu lalu dia bertanya apa itu doa supaya dapat ikan.